9.21.2015

Enhancing Confidence Level

Beberapa waktu lalu sempat mengobrol sama senior yang dulu menyelesaikan PhD nya di UCL. Saya master, beliau masuk PhD. Saya sharing dan curhat sama dia mengenai permasalahan yang saya alami.

Dia sempat bilang kalau PhD harus dibawa santai (maksudnya balance) kali ya. Jadi jangan dianggap sebuah beban, dan semua pikiran, fokus dan tenaga buat PhD. Sampai dia  cerita kalau ada temen PhD nya yang malah sambil PhD bisa belajar bahasa lain.

Hmm, ini menarik. Apa maksudnya? sampai saya cari benang merah antara learning curve, confidence level dan PhD. Jadi kalau dirumuskan begini kurang lebihnya:

Suatu saat di masa sedang menjalani PhD, akan merasakan jenuh. Saya merasakan bosan dan jenuh, karena saya belum merasa 'menemukan' sesuatu yang cukup membahagiakan kedua pembimbing saya. Sampai mereka harus 'intervensi' saya. Saya orang perfeksionis, yang merasa kurang terus dalam segala hal. Jadi saya gak pernah puas dengan apa yang saya capai. Pencapaian saya sampai tahun kedua malah saya anggap sebuah 'keberuntungan' dibanding 'kemampuan'. Hal inilah yang membuat saya sempat minder, bingung, menutup diri, dan merasa gak mampu.

Sampai saya mengerti apa kata supervisor saya (blog sebelumnya) mengenai PhD itu tidak harus pintar. Saya salah menerjemahkannya, saya malah menganggap kalau supervisor saya menganggap saya 'kurang pintar'. Ternyata maksud beliau: PhD adalah sebuah proses learning curve untuk meng-gain research skill. This is the basic skill to become a researcher. Skill untuk membentuk cara berpikir peneliti. Mindset inilah yang harus terbentuk di program PhD.

Lalu saya hubungkan dengan life balance mahasiswa PhD. Saat mengalami kebosanan, kebuntuan atau perasaan negatif itu datang. Ditambah pula ketika kita menganggap PhD adalah segalanya (atau mungkin satu2nya hidup yang kita punya). Contoh yang dirasakan adalah ketika mengalami kebuntuan saat melakukan penelitian seperti: coding yang gak berhasil, paper gak ada yang pas, gak tahu tujuan thesis mau ke mana, dll. Alhasil pikiran jadi stress, bingung aka gak tahu mau ngapain, kayak blank gitu aja. Padahal PhD itu kan proses, dan jalan pasti ada. Itulah gunanya ada pembimbing kan?

Saya baru sadar itu. Selama ini saya menganggap kalau diri saya ini bermasalah, dan saya gak punya kemampuan untuk PhD. Kasarnya adalah saya gak yakin bisa PhD.

Sampai ingat kata senior saya itu, ada temennya belajar bahasa lain waktu PhD. Nah ini bisa jadi sebuah solusi saya pikir. Saya mencoba beberapa hal baru, seperti mencoba belajar main gitar akustik (youtube jadi guru saya) dan belajar bahasa Korea. Dua hal baru ini cukup bisa membantu saya meningkatkan kepercayaan diri saya. Dengan belajar gitar akustik dari sama sekali gak bisa dengan bantuan youtube dan gitar pemberian teman. Saya terpacu dan semangat lagi untuk bisa belajar gitar supaya bisa ngeband sama teman-teman. Hasilnya baru saya rasakan seminggu kemudian. Saya belajar satu lagu dengan petikan dan alhamdulillah mulai bis dan sekarang masih proses memperlancar.

Kemudian, sebulan ini saya buat program pertukaran bahasa sama teman saya dari Korea. Setelah beberapa minggu saya mulai bisa membaca dan menulis hangeul (tulisan korea) dan bisa memulai percakapan dalam bahasa Korea. Alhamdulillah.

Intinya yang saya lihat adalah  perlunya berusaha dan bekerja keras. Saya lihat kembali diri saya, kalau saya ini ternyata masih punya kemampuan untuk belajar dan berusaha. Saya punya semangat masih, dan punya jiwa untuk mau terus maju. Ini yang mengingatkan saya kalau saya pun masih ada waktu untuk memperbaiki kualitas penelitian saya. PhD gak harus pintar, tapi harus dikerjakan dan dicapai dengan usaha dan kerja. Malah sebelumnya saya merasa sudah kalah perang duluan, saya bingung mau kerjain apa, saya kerjain ini salah, kerjain itu salah. Gak pernah ada benernya. Malah saya malas untuk memulai dan memperbaiki hal yang menurut saya belum sempurna. Kebosanan pun akhirnya sebanding dengan derajat kemalasan, malah mungkin exponential dengan kebosanan. Dua nilai bosan bisa menghasilkan angka delapan kemalasan. Which is not good.

Dari sinilah saya harap saya bisa mendapatkan semangat lagi, kepercayaan diri lagi untuk bisa lulus PhD tepat waktu, which is on target 28 November 2015, hari Senin, di ruang Hancock, building 62. In shaa Allah aamiiinn.
Share:

Learning Curve

Beberapa waktu lalu diingatkan sama supervisor saya yang bilang mengenai learning curve.

Mencoba memahami beberapa hal ini, sampai ada tulisan di group fb mengenai dua tipe pembelajar. Yang satu menganggap kalau kecerdasan itu adalah pemberian, dan itu gak bisa dirubah (ditambah atau dikurangi). Tipe yang seperti ini biasanya menerima segala sesuatu apa adanya, maksudnya ya cukup dengan apa adanya. Kayaknya gw sempat masuk tipe ini beberapa waktu lalu. Pembimbing pernah bilang soalnya, kalau PhD itu gak harus pintar. Dalam hati malah berpikir, apa sayakah memang kurang pintar? apakah saya memang kurang punya kemampuan PhD? and so on.

Sampai saya memahami satu tipe pembelajar lagi, adanya sebuah pemahaman kalau misalnya kecerdasan atau kepintaran adalah sebuah hal yang bisa dicapai. Tingkat kecerdasan seseorang bisa dicapai kalau orang itu mau bekerja keras dan berusaha. Nah, kemudian mengerti dengan yang dimaksud sama pak pembimbing tadi. Rupanya PhD itu bukan gifted, but it is a gained. Memiliki kemampuan untuk menjadi seorang PhD harus melalui beberapa tahapan tertentu, salah satu yang mendasar dan penting (sumber James Hayton), kalau PhD itu skill yang bisa dikembangkan sama setiap orang. Inti dari PhD itu adalah membuat sebuah karya ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan di dunia akademis. Bagaimana caranya mempertanggungjawabkannya? yaitu dengan dites, viva itu adalah sidang di depan seorang penguji. Di mana penguji ini mewakili ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini.

Jadi sebenernya, kurang lebih saya sedikit lebih mengetahui bagaimana itu PhD seharusnya, ya dari dasar beberapa buku yang saya baca tadi. Tapi ada hal yang malah menjadikan itu sebuah hal yang kecil, kadang terlalu santai dan terlalu meremehkan. Padahal itu adalah sesuatu yang rumit atau kompleks? seharusnya bagaimana? saya pun gak tahu, apakah jalan pikiran saya ini benar atau salah? atau memang seharusnya seperti ini? atau harusnya saya agak kuatir? ini masih menjadi hal yang masih saya cari.

Tapi intinya adalah ya mengerjakan, mungkin harus distart dari sekarang dan harus bekerja lebih pintar dan lebih giat. In shaa Allah. Bismillah!

Share:

Writing and Mental Health

Barusan nemu sebuah benang merah mengenai menulis dan kesehatan mental. Maksudnya menulis adalah membuat sebuah karya tulis apapun itu. Ini mungkin jawaban dari pertanyaan teman kemarin via whatsapp. Ada hal yang belum disebutkan di blog sebelumnya, mengenai alasan menulis.

Ini berdasarkan apa yang gw baca, lihat dan rasakan sendiri. Pertama gw tahu kalau menulis itu bakal memberikan dampak kesehatan mental yang luar biasa waktu nonton Mata Najwa edisi Pak Habibie, terus gak lama kemudian counsellor juga ngomong kalau menulis setiap pengalaman yang baik dan buruk untuk bisa mentransfer keruwetan dalam pikiran ke dalam sebuah diary atau jurnal pribadi akan sangat membantu.

Ditambah ini setelah nonton interview Oprah sama JK Rowling, ada pernyataan JK yang nyebutin kalau dia harus menulis karena menulis itu penting buat kesehatan mentalnya. Dia juga cerita kalau dia pernah mengalami depresi, dari ditinggal ibunya, jadi orang tua tunggal, dan jatuh miskin. Dan dia butuh pelampiasan segala keruwetannya. So, menemukanlah dia menulis sebagai sebuah jalan keluar. Kemudian ada cerita Pak Habibie yang baru ditinggal Ibu Ainun, dan apa yang beliau lakukan adalah menulis.

Mungkin menulis bisa menjadi sebuah penyeimbang untuk kesehatan mental dan kesehatan pikiran. Jadi kayaknya mulai menulis lagi lebih giat dan lebih baik lagi. In shaa Allah
Share:

9.12.2015

Menulis

Paling enak kalau bingung kalau gak menggambarkan keruwetan, ya ditulis dijadiin cerita. Beda lagi kalau menulis akademis, dibuat ceritanya seperti karangan ilmiah. Gimana? Wah itu masuk ke beberapa style penulisan. Setiap orang punya gaya menulis berbeda.
Tapi kadang perlu juga dapat feedback yang berguna kalau nulis akademis. Justru dari situ kan bisa tahu mana salahnya dan bagaimana harusnya.
Ini sudah mulai mencoba nulis untuk target first draft jadi desember awal dan dikirim bulan desember akhir sebelum liburan tahun baru ke supervisor.
Jadi, terus saja menulis dan menulis. Dicoret? Ya berarti yang gak dicoret itu yang lebih penting

Share: