1.18.2016

Blessed

Selama ini kurang merasa bersyukur atas apa yang udah didapat dan dicapai. Bayangan mah selalu kurang ajaaaa. Apapun itu selalu kurang.

Sampai beberapa kali ketemu dan gabung ke group reunian. Bukannya merasa sombong atau ria, tapi ya merasa bersyukur saja atas kesempatan yang Allah berikan. Semoga terus diingatkan Allah untuk selalu bersyukur dan ingat terus.

Yang berasa adalah kemarin, our first snow together. Alhamdulillah sekali, gw sekeluarga bisa ngerasain salju langsung. Untuk sesaat ketawanya Arka, senangnya Arka, lincahnya Arka di atas salju seems lift my world. Even for a while, He lifted my world for that time. It is a grateful, and i am very grateful for this fortunate. 

Alhamdulillah ya Allah. Sedikit demi sedikit, menyelesaikan perjuangan PhD. Karena ternyata hidup bukan cuman PhD. It is a lot more than that. 

Bismillah....
Share:

Pantang Mundur

Sempat beberapa kali susah mengambil keputusan atau takut sekali mengambil keputusan.

Ketakutan dan kegelisahan ini berbeda dan berkembang seiring umur bertambah. Masih ingat jelas dulu punya kekhawatiran yang cukup mengganggu waktu SD. Dulu SD sering jadi orang yang terakhir di rumah, sebelum berangkat ke sekolah, tanggung jawab utama adalah mengunci pintu sebelum berangkat. Sering kali kepikiran terus dah tuh, udah dikunci apa belum udah dikunci apa belum ya. Sampai akhirnya menemukan cara untuk melawan itu. Soalnya karena kalau udah jadi kebiasaan atau rutinitas memang sering gak keinget, tapi ternyata memang sudah dikunci. Begitu terus lawan pikirannya. Kalau takut justru itu normal dan kalau ada rasa takut biasanya itu mah aman aja. Cuman pikiran ini aja yang mengganggu.

Lanjut dulu kuatir waktu kerja part time di restoran. Beberapa kali pendahulu punya kejadian lupa matiin keran, yang ada luber dah tuh. Nah sering juga begitu lupa udah matiin keran atau belum, sampah udah dibuang belum. Kekuatiran itu muncul terus waktu jalan sampai di rumah. Tapi dari situ jadi lebih hati-hati ke depannya. Ternyata kekuatiran itu cuman ada dalam pikiran kita. Jadi Bismillah saja, kalau memang kuatir itu wajar dan memang gw ingin selalu sempurna dalam semuanya. Which is gak bisa sekaligus gitu aja.

Kekuatiran pun lanjut pas nulis paper, mau ketemu supervisor, dll. Sekarang alhamdulillah tahu kunci melawannya, persis kayak waktu SD/SMP dulu. Kalau kuatir akan takut suatu kejadian, ternyata itu ada di dalam pikiran saja. Bismillah...

lawan terus rasa takut. Pantang Mundur!!
Share:

1.13.2016

Scheduling The Priorities

Kalau gak salah dulu pernah share juga kalau gw sering buat jadwal harian yang mengatur prioritas gw di situ.

Dari dulu-dulu sie memang jelas ya kalau terikat waktunya, entah sama kuliah atau kerja. Nah begitu di PhD ini sebenernya prioritasnya itu gak sejelas dan segamblang waktu master. Karena prioritas itu yang bikin kita. Kita serasa orang merdeka disini, gak terikat sama siapa-siapa. Terikatnya paling cuman sama deadline papers atau untuk ketemu supervisor. Itupun gak setiap hari ada jadwal deadline atau meeting.

Beberapa waktu lalu sering membaca postingan di fb yang cukup viral. Postingannya itu mengenai setting priority. Prioritasnya yaitu untuk mendahulukan sholat wajib. Jadi ada orang yang harus ke Jakarta tapi beberapa klien malah membatalkan dan membuat jadwalnya dia berantakan. Sampai ada ustadz yang membuat dia untuk mencoba memprioritaskan sholat wajibnya dulu.

Nah ini yang jadi ide menarik. Karena selama ini agak aneh dan kurang okey kalau membuat prioritas membuat paper atau membuat report atau menulis thesis. Awalnya sie kayak biasa aja, dianggap kayak kurang kerja aja. Tapi yang ada malah karena prioritas itu memang ditentukan diri sendiri, malah sering gak jalan jadwal itu. Banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang ternyata gw lakukan.

Hal ini terjadi sampai gw lihat postingan itu. Gw mencoba untuk membuat jadwal harian dengan memprioritaskan sholat jamaah di mesjid sebagai milestonenya. Kalau boleh diarsir warna merah untuk menandakan kalau ini prioritas paling penting. Semoga dengan prioritas ini bisa membuat gw semakin lebih baik untuk berdisiplin. Gak cuma dalam ibadah tapi dalam kehidupan sendiri. Karena procrastination itu sangat menganggu.

Bismillah, wish me luck please :)
Share:

1.12.2016

Seize the day = Bersyukur

Beberapa kali dikasi tau mengenai filosofi "Carpe Diem" atau bahasa inggrisnya seize the day. atau bahasa Indonesia adalah menikmati setiap momen.

Mungkin baru ngerasa kemarin, setelah beberapa kali disaranin sama counsellor. Dia bilang kalau enjoying the moment bisa dengan menggunakan seluruh panca indera untuk bisa merasakan dan menikmati setiap detik dalam hidup. Melihat dengan mata hati, menghirup aroma saat itu, dan meraba apa yang jadi fokus kita. Berasa kemarin waktu main sama Arka, bisa menikmati main sama Arka, melupakan semua masalah lain. Ketawa bareng Arka, bercanda bareng Arka, dan sangat enjoy momen itu sampai bisa lupa sama yang lain.

Mungkin ini yang dikatakan khusyuk? wallahualam. Mensyukuri setiap momen yang dirasakan dengan menikmati setiap momen itu. Karena waktu itu gak akan kembali kan. Jadi nikmati saja momen yang kita rasakan mumpung masih kita jalanin.

Jadi, kita mulai menikmati, menikmati menulis disertasi, menikmati bimbingan dengan supervisor. Jangan sampai kita terlalu memikirkan apa yang sebenarnya belum terjadi. Masa depan itu malah kesannya sudah terjadi di dalam pikiran kita, "nanti kalau begini bagaimana". Itu yang kadang membuat energi habis. Ditambah lagi tanpa ada perencanaan matang, cuman mengira-ngira kejadian apa yang akan terjadi tanpa persiapan apa-apa. Itu lah yang masih gw harus pelajari, meminimalisir unexpected consequences with working harder and harder.

Bismillah...
Share:

1.11.2016

Blame the Scapegoat

Kalau mengobrol sama teman, masih membicarakan hal ini. Bagaimana dulu proses mau transfer sekolah yang sulit, sehingga empat bulan kita terbengkalai dan gak tahu harus bagaimana. Sampai akhirnya diputuskan kalau kita gak bisa transfer ngikutin pembimbing kita yang pindah ke sana.

Hal ini yang menjadi tantangan di awal PhD. Masih mencari bentuk dan pegangan di PhD, tapi nyatanya koq dapat tantangan seperti itu. Masih sering kali menyalahkan hal itu. Itu dianggap sebagai pelarian atau bahkan kambing hitam nya. "kalau misalnya dulu..." Nah kata-kata ini yang katanya godaan setan.

Jadi dengan nulis di sini, gw mau move on dari sini. Move On, bersyukur dan kemudian akan lanjut ke masa depan PhD gw yang lebih cerah. Kalau di SATM gw yakin gw bakal memiliki kesempatan yang lebih baik seperti bisa lulus tepat 3 tahun seperti yang diminta kantor gw (kantor gw sudah siap mempromosikan gw. Aaamiiinn). itu saja sekarang tujuan gw, sederhana tapi butuh kerja smart, lulus PhD tepat waktu tiga tahun. Target in sha Allah Agustus submit thesis disertasi kemudian November lulus viva PhD nya. Amin in sha Allah.

Banyak sekali keuntungan yang bisa gw lihat, dari sisi research method, SATM lebih cocok bagi riset gw, karena terdapat perbedaan pendekatan untuk membangun hipotesa dan teori di SOM. SOM membutuhkan metoda dan pendekatan yang lebih robust dibanding yang lain. Itu wajar karena SOM cenderung melihat sebuah fenomena yang terjadi dan merumuskan itu menjadi suatu masalah. SATM sendiri lebih ke arah melihat sebuah fenomena menjadi masalah, dan risetnya itu adalah membantu orang untuk bisa menyelesaikan masalah itu. Dan untuk SATM, hasil penelitian bisa dibuktikan di akhir as bagian dari proses riset. semua ada plus atau minus,

Tapi gw yakin kalau itu adalah "petunjuk Allah" akan ada di mana kita dan harus bagaimana kita. Karena Allah yang paling tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya. Jadi in sha Allah kita coba lagi dan kita perbaiki lagi mental ini. Move On, dan percaya segala sesuatunya ini lebih baik buat gw. Amin.

Ya Allah tolong berikan hamba kemampuan untuk pintar bersyukur. Amin.
Share:

Menunda Penundaan

Memang kayaknya diri ini memang malas,

Kadang kurang mensyukuri apa yang sudah didapat. Masih mencari dan membayangkan rumah sakit malas, Dan di mana sekarang posisi kita.

Beberapa hal yang bikin malas, penundaan. Harus dilawan dan diperbaiki lagi supaya bisa kembali lebih baik dan bisa lebih cepat lulus. Amiinn

Jadi di sini, mencoba membandingkan kalau pekerjaan yang ada kita tunda sampai beberapa hari ke depan. Manfaatnya dan mudharatnya. Tapi karena dituntut untuk selalu berpikir positif, maka kita coba liat manfaat dari mengerjakan segala sesuatunya selagi bisa.

Kalau mencoba membereskan paper hari ini, besok bisa kumpul ke supervisor dan lanjut ke proofread untuk kemudian dilanjutkan submit ke conferencenya, karena paper beberapa waktu lalu sudah jauh dikumpulkan dari sebulan yang lalu dan alhamdulillah bisa dapat revisi yang banyak. Revisi yang banyak, waktu yang banyak untuk mempersiapkan semua, dan chance untuk diterima juga baik. Sama dengan thesis sekarang kali ya, sambil mencoba menulis per hari 500 kata diharapkan bisa membantu untuk menuliskan beberapa ide dan mengcompactkan beberapa masukan ke dalam tulisan. Karena bagi gw selagi menulis disertasi akan bisa terlihat mana yang masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan. Jadi lebih terbayang, dibanding beberapa waktu lalu yang gak keliatan hasilnya seperti apa. Sedangkan, dengan mencoba menulis juga kita bisa melihat, mengukur dan mendeskripsikan perkembangan thesis gw. Jadi Bismillah, tetap komitmen menulis dan menulis dan menulis.

Bismillah. Wish me luck please :)
Share:

1.09.2016

Being Thankful

Being thankful for what i got.

Memang selama ini kayaknya mengasihani diri sendiri jadi excuse yang paling enak. Ya baru jadi bapak lah, baru berkeluarga lha, baru pindah ke UK lha, baru jadi suami lha, baru jadi phd student lha. Semua berubah sekaligus dan itu masa transisi.

Itu adalah excuse yang sebenernya bisa jadi pendorong atau semangat kalau kita liat dari perspektif yang berbeda. Tapi memang dasarnya malas, sehingga mencari banyak pembenaran akan semua sikap dan tindakan yang diambil.

Kembali lagi menjadikan buku ranah 3 muara sebagai referensi atas pengalaman orang lain yang pernah merasakan kemalasan yang sama. Ada satu bahasan di bukunya berjudul "Rumah sakit Malas", di situ penulis diajak sama seniornya yang mengajarinya menulis untuk pergi ke sebuah tempat kumuh di daerah Bandung. Yang pastinya dari situ penulis melihat kalau dirinya jauh lebih beruntung daripada orang-orang tersebut. Di rumah sakit malas itu, dipertunjukkan segala macam kesulitan yang bisa terjadi dalam kehidupan.

Subhanallah, astagfirullah, kenapa gw ini masih terus bermalas-malasan. Padahal keadaan gw jauh lebih baik. Semua tampak lancar dan alhamdulillah sehat walafiat, ada kesempatan sekolah lebih tinggi, punya keluarga yang mendukung, istri cantik nan baik, anak pintar nan sehat. Rejeki alhamdulillah ada, semuanya ada, cuman memang gw kadang kurang bersyukur.

Dari sini gw berjanji untuk melihat dari sisi yang berbeda. Dan memohon kepada Allah Swt agar dijadikan sebagai orang yang pandai bersyukur, Amin. in sha Allah

wish me luck please
Share:

1.08.2016

Keep Calm, Done is Better than Perfect!

Sering kali takut dan melihat segala sesuatu dari sisi jeleknya. Jadinya ya gak ke mana-mana. Terlalu takut untuk berbuat sesuatu yang baru.

Contohnya untuk menulis paper, belum ada rasa percaya diri untuk menulis, ada saja kesannya untuk berpikir negatif lha. kurang ini lha kurang itu lha, takut nanti ada yang salah lha, takut plagiat lha, hal-hal kayak gini ini yang sebenernya merupakan tantangan yang harus dihadapi.

Cuman satu cara untuk bisa sembuh dari rasa ketakutan itu, ya jalani saja dan hadapi rasa ketakutan itu. Kalau takut nulis ya belajar untuk nulis. Ya memang untuk orang perfectionist, harus menemukan waktu yang pas, mood yang sesuai, atau arti kata lain semuanya harus dalam keadaan perfect, ya penunjangnya, ya tulisannya.

Tapi kalau nunggu lama, ya kapan bisa selesai. Sampai gw ngobrol sama Piotr (baca: Peter) yang kerja di Research Centre, dan gw lihat di mejanya ada kata "keep calm because done is better than perfect". Kalimat yang bagus dan menggugah gw untuk bisa menyelesaikan yang gw mulai.

Gw gak akan bisa perfect koq, tenang saja dan gak semua orang bisa perfect. Dari situ gw belajar menjadi lebih baik saja, karena bagi gw sepanjang hidup itu belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik bukan untuk menjadi sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah semata bagi gw. Jadi gw bakal mengerjakan apa yang gw bisa. Bertahap gw belajar dan menyelesaikan segala sesuatunya sebaik yang gw bisa.

Share:

1.07.2016

Kekuatan Doa

Kemarin sempat WA sama mentor. Beliau yang telah menemukan teori fisik untuk Law of Attraction.

Beberapa kali mengikuti pelatihan beliau, dan memang selama ini masih nyambung sie. Dan akhirnya gw percaya sama kekuatan doa. Ada benang merah di sini, dulu pernah ikut MLM dan lama di situ. Ada satu hal yang namanya Dreams. Dream ini lah yang mendasari semuanya. Dream jadi bahan bakar untuk berbuat lebih atau bertindak atas segala sesuatu. Dream ini bisa kembali sebuah tujuan, niat, cita-cita, impian, bisa sembarang nama, tapi intinya satu, yaitu niat. Masih nyambung sama Hadits Nabi yang bilang kalau segala sesuatu itu berdasarkan niat.

Okey, setelah itu niat ini akan diapakan? Niat ini ditranslasikan ke sebuah hasil, atau cita-cita, atau tujuan. Ini digunakan untuk mengilustrasikan sebuah tujuan. Tujuan bisa bermacam-macam, tapi setiap orang bisa membayangkan tujuannya masing-masing. Imajinasi? impian? bayangan yang akan dicapai, semua bisa merepresentasikan hal tersebut.

Nah ini lah kekuatan dari pengilustrasian, ini yang membuat seakan hal tersebut sudah terjadi di dalam pikiran kita. Nah dari sinilah semua aspek di dalam otak terakumulasi dengan frekuensi tertentu. Saat frekuensi otak ini beresonansi (proses bergetarnya benda lain oleh suatu benda yang bergetar saat frekuensi tertentu) dengan alam semesta, di situlah yang namanya kekuatan keinginan. kekuatan pikiran kalau boleh disebut. Hal ini sudah banyak diunggah orang-orang di bukunya, seperti The Secret and Law Of Attraction.

Untuk direpresentasikan untuk orang muslim, keinginan ini dalam bentuk representasi dari doa. Dari doa yang sungguh-sungguh itu dengan menyertakan nama Allah SWT, berdoa sungguh-sungguh, dan in sha Allah akan dikabulkan. In sha Allah.

Hal ini yang membuat gw terus berdoa, mengimajinasikan semua mimpi gw, menuliskan, menggambarkan dan menempelkan semua impian gw di desktop komputer, di dinding tempat kerja, di manapun berada. Dan alhamdulillah, ada saja jalannya tanpa kebayang semuanya. Maha Besar Allah, semua jalan terbuka satu per satu dan hebatnya list impian gw itu sedikit-demi sedikit bisa gw hapus, karena gw sudah mendapat atau mencapai hal itu.

ditambah doa dari orang tua dan istri, semakin banyaknya doa dari orang-orang, akan semakin tinggi amplituda dari gelombang frekuensi doa. Amplituda yang makin besar berasal dari orang-orang yang pikirannya tulus dan tanpa pamrih mendoakan kita, mungkin itu yang bikin doa orang tua diijabah untuk anaknya. Kebayang rasa sayangnya orang tua sama anaknya (gw baru ngerti itu setelah gw punya anak, gw berani melakukan apapun buat anak gw, sama hal nya dengan orangtua manapun gw kira). Mereka, orangtua, tulus dan mengharap kebahagiaan untuk orangtuanya, itu yang memberikan 'amplituda' lebih untuk bisa frekuensi ini beresonansi dengan alam semesta.

Jadi menurut gw jangan ragu atas kekuatan doa. Wallahu alam, ini berdasar dari pengalaman dan analisa gw setelah mengikuti beberapa training pelatihan dan juga mempraktikannya di kehidupan nyata.


Bismillah, wish me luck please :)
Share:

1.05.2016

Verifikasi dan Validasi

Pernah melakukan sesuatu tapi gak tahu apa itu?

Mungkin itu yang kebayang sama gw, tipikal orang yang grasak-grusuk, jalanin dulu aja yang penting selama ada kesempatan. Sampai akhirnya itu yang nganterin gw masuk ke ranah marketing. Mungkin dulu lama jualan roti sama kaos bikin jadi main hajar terus ya?

Begitu sampai ke ranah akademik, PhD, ini beda total. PhD perlu persiapan dan perencanaan yang matang. Ini yang sekarang gw lagi digodok sama pembimbing gw. Merubah jalan pikiran ke jalan pikiran seorang researcher. Bismillah, sedikit demi sedikit.

Kembali ke pertanyaan sebelumnya, akhirnya gw mendapatkan apa maksud gw kemarin yang laksanakan. Yaitu, proses verifikasi jalan pikiran. Ya kalau supervisor gw bilang sekedar chatting aja. Tapi ya ada proses verifikasi di situ. Nanti harus ditulis memang, disistematisasikan supaya terlihat research nya, untuk bisa dipertanggung jawabkan.

Bismillah, wish me luck please :)
Share:

1.03.2016

8 bulan lagi

target dan rencana program doktor di sini tinggal beberapa bulan lagi. LoA hanya sampai Oktober atau bulan sepuluh, Tidak berasa sebenarnya sudah dua tahun berada di Cranfield.

Sedikit-sedikit to-do-list untuk pulang sudah mulai dirancang. Mulai mencari mobil yang sesuai dengan kebutuhan dan dana, ditambah mencari nomor kartu handphone pasangan untuk sepasang sama istri, mencari jasa ekspedisi untuk pengiriman barang-barang di sini, menginisiasi usaha makanan untuk istri di Indonesia nanti, dll.

In sha Allah, semoga semua berjalan lancar, yang penting jadi PhD dulu untuk kemudian kembali mengabdi ke Indonesia. amin :)
Share:

Tahun Terakhir

Pulang kemarin memberikan banyak masukan buat diri sendiri.

Pulang kemarin mengingatkan kalau gw ini masih berperan sebagai anak, menantu, kakak, kawan, teman, bawahan, senior, yang juga menjadi sebuah simbol kebanggaan, kebahagiaan, dan harapan keluarga. Ini yang bikin pulang kemarin menjadi pemicu semangat lebih giat dan lebih baik lagi ke depannya.

Mungkin di sini, di depan supervisor gw, gw bukan siapa-siapa, gw malah ngerasa kalau itu menjadi sebuah beban buat gw. Gw ngerasa gak sebagai apa-apa, ya as someone juga pekerjaan gw.

Tapi itu kehidupan, dengan melihat perspektif yang berbeda in sha Allah akan memberikan gw semangat dan energi baru lagi. Ingat membaca novelnya A Fuadi di ranah tiga warna. Perasaan mau menyerah atau mau lari saja sering kali mengammpiri, tapi kadang di situ malah kita lupa bersyukur. Bersyukur atas kesempatan ini, bersyukur atas kehidupan dan kesempatan yang didapat dan bersyukur atas semua dukungan dari lingkungan di Indonesia. Kadang merasa lupa itu.

Bismillah, semoga berikutnya akan kemudian akan menjadi lebih baik lagi. Sebagai PhD student, bapak, suami, anak, menantu, pegawai professional, yang memberikan yang terbaik. Amin :)
Share:

1.02.2016

Arka dan Karina

Pas perjalanan pulang sempat melow dan galau, kadang juga menitikkan air mata.

Pas di Indonesia, mereka berdua kurang sehat, batuk, flu, pilek, kecapekan. Agenda yang sudah dibuat pun kita adjust lagi untuk kesehatan Arka.

Ini yang bikin gw sadar, agenda yang gw buat ternyata gak cocok untuk Arka. Arka sempet drop, diare ketika di Indonesia. Ini yang bikin gw sempet galau, apa karena keegoisan gw yang ada malah Arka jadi korban.

Hal ini juga yang bikin gw bercermin kembali apa bener gw ke UK ini juga mengorbankan mereka? yang jelas gw tahu sie kalau istri gw luar biasa pengorbanannya. Resign dari kerjaan impiannya dia, becoming full time mother. Arka, apa dia ngerti? apa dia happy? wallahu alam.

yang pasti gw berjanji dan gw berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk mereka. Semoga menjadi PhD nanti akan membawa berkah dan manfaat juga bagi mereka berdua, orangtua, keluarga besar dan lingkungan. amin. Bismillah

wish me luck please :)

Share:

Holiday

Alhamdulillah sudah kembali ke UK lagi.

Tangagl 9 kemarin kita bertiga liburan pulang ke Indonesia. Alhamdulillah perjalanan lancar, Arka pun senang di perjalanan. Perjalanan pertama pakai pesawat A380, kursi dan leg room untuk kelas ekonominya masih enak dan nyaman. Sempat takut dengan peraturan bagasi yang ketat dan berubah, yang tadinya dari 30 kg per piece dirubah menjadi 23 kg dari UK ke Indonesia (setiap zona tujuan akan punya perbedaan peraturan bagasi). Nah yang peer adalah ketika kembali ke UK, kita punya dua koper besar dengan berat rata-rata 26 kg, dan itu ternyata gak bisa. Harusnya koper yang masuk bagasi adalah 23x2 untuk setiap orang. Dan sempat beberapa kali negosiasi sama check-in desk masih belum bisa. Sampai kita coba repacking lagi dan coba sama petugas yang berbeda. Alhamdulillah berhasil masuk. sampai kita tambah lagi koper yang tadinya dari kabin ke bagasi.

jadi ya next time kayaknya mendingan naik selain airline ini. Tapi in sha Allah pulang berikutnya untuk for good, dan tahun ini tahun terakhir program PhD. In sha Allah lulus tepat waktu dan bisa pulang akhir tahun ini. Wish me luck please.

Kemarin pulang ke Indonesia untuk mereport progress penelitian ke atasan dan kantor. Karena sudah dua tahun ini case study untuk phd riset gw adalah dari perusahaan tempat gw kerja. Jadi gw tunjukkin simulasi dan beberapa operasi dari software yang gw akan kembangkan di riset gw. Alhamdulillah supportnya luar biasa. Bikin gw makin semangat untuk segera lulus dan kembali ke Indonesia, mengabdi untuk Indonesia. Amin.

Tiga minggu tidak terasa memang, perasaan baru kemarin packing untuk pulang. Eh, sekarang sudah kembali di Cranfield. Dengan oleh-oleh metabolisme tubuh yang masih mengikuti waktu Indonesia. alhasil, jam segini masih segar bugar. Alhamdulillah.

In sha Allah dengan liburan ini bisa jadi penyemangat kembali untuk bekerja lebih keras dan lebih giat, lebih cerdas. amin.

Bismillah

Share: